Medan Budaya Santri Zaman Now

Dr. Samidi Khalim, M.S.I Penulis adalah Peneliti Sosial Keagamaan di Balai Balai Litbang Agama Semarang dan Ketua LTN NU Kota Semarang

NUKITA.ID, SEMARANGTulisan ini merupakan “catatan samping” saat penulis melakukan riset tentang “Indeks Literasi Al-Qur’an Siswa SMP di Kota Pasuruan” beberapa waktu yang lalu. Saat melakukan penelitian, penulis menginap di hotel yang tak jauh dari alun-alun Kota Pasuruan. Pusat kota santri yang tak pernah tidur dari aktifitas manusia. Di pusat kota inilah penulis mengamati hiruk-pikuk aktifitas kaum santri dari berbagai penjuru daerah.

 
Di pusat Kota Pasuruan ini kita dapat melihat secara langsung medan budaya (cultural sphere) kaum santri. Ya, kaum santri yang baru 3 tahun ini diakui eksistensinya oleh pemerintah. Dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional (HSN) pada tanggal 22 Oktober di era pemerintahan Jokowi ini. Dalam catatan sejarah, peran kaum santri dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa tidak dapat dinafikan. Menurut Gus Mus, Santri itu bukan hanya mereka yang belajar di pondok pesantren saja. Tetapi siapa saja yang memiliki akhlak seperti santri, taat kepada Allah Swt dan rasul-Nya, ta’dhim pada ulama, welas asih pada sesama, dan setia pada NKRI. 
 
Sebelum bicara apa itu medan budaya santri, baiknya kita lihat dulu unsur-unsur kebudayaan yang oleh Kluckhon disebutkan ada 7, yaitu: sistem religi, sistem pengetahuan, sistem teknologi, sistem kemasyarakatan, sistem ekonomi, bahasa, dan kesenian. Unsur-unsur kebudayaan tersebut sifatnya universal, Koentjaraningrat menegaskan istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan dapat ditemukan dalam semua kebudayaan bangsa di berbagai penjuru dunia. Untuk memahami kebudayaan tersebut dapat dilihat dari tiga kategori wujudnya, yaitu sistem ide, aktivitas, dan artefak. 
 
Medan budaya kaum santri yang dimaksud adalah tempat pertemuan antara masyarakat santri dengan budayanya. Nur Syam dalam bukunya Islam Pesisir (2005) menjelaskan bahwa medan budaya itu media masyarakat melakukan aktifitas budayanya, yang umumnya berbentuk tradisi atau ritual keagamaan. Medan budaya kaum santri ini bagian dari unsur-unsur kebudayaan. Adapun di pusat Kota Pasuruan ini kita akan mendapati setidaknya 4 medan budaya kaum santri, yaitu: masjid, makam, pasar, dan alun-alun.  
 
Pertama, masjid merupakan medan budaya utama kaum santri melakukan peribadatan. Mereka melakukan ibadah ritual, salat, i’tikaf, dzikir, mengaji, dan berbagai ibadah lainnya. Masjid Jami Al Anwar atau orang biasa menyebutnya “Masjid Agung” merupakan bangunan bersejarah yang dibangun oleh Mbah Slagah lebih lima abad yang lalu. Bangunan masjid seluas 3000 m2 dibangun diatas tanah seluas 3600 m2 dengan corak Timur Tengah dan Modern. Bangunan yang megah ini pun menjadi daya pesona para wisatawan religi untuk ber-selfie atau foto bersama rombongan, untuk diposting di grup sosial media, baik itu melalui Facebook, grup WA, Twitter, maupun Instagram. Dan inilah bagian dari medan budaya kaum “santri zaman now”.
 
Kedua, makam merupakan medan budaya santri melakukan tradisi ziarah dan ritual. Di belakang Masjid Jami Al Anwar terdapat banyak makam auliya dan juga makam Adipati Nitiadiningrat bupati Pasuruan pertama (pada era kolonial). Diantara waliyullah yang makamnya berada di belakang masjid Agung Pasuruan ini adalah KH. Mas. Imam bin Thohir, KH. Abdul Hamid, Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf (guru Kyai Abdul Hamid), dan masih banyak lagi. Namun diantara auliya tersebut, yang paling terkenal karomah dan kharismanya adalah KH. Abdul hamid. Kemasyhuran KH. Abdul Hamid sebagai wali ini menyebar hingga ke berbagai penjuru negeri, sehingga Kota Pasuruan ini menjadi destinasi wisata religi bagi para peziarah yang keliling ke makam Walisongo. 
 
Makam Mbah Hamid ini tidak pernah sepi dari para peziarah. Setiap saat ada peziarah yang ngalap berkah, berdoa, dan mendokan di makam beliau, baik itu secara pribadi maupun rombongan. Penulis saat masuk ke makam pun susah mencari tempat untuk bersila, karena kebetulan waktu itu malam Jumat Kliwon. Hanya saja makam ini tertutup dan disterilkan dari para peziarah pada saat salat lima waktu. Makam wali inilah yang menjadi medan budaya kaum santri, tempat dimana mereka melakukan ritual dan peribadatan. Ada ritual santri zaman now yang tidak ketinggalan di komplek makam ini, yaitu selfie atau foto bersama jamaah dengan smart phone-nya. Hasil jepretan itupun dalam waktu tak lama langsung diunggah ke dunia maya melalui akun media sosialnya.
 
Ketiga, pasar merupakan medan budaya kaum santri untuk mencari rejeki. Pasar Poncol yang tidak jauh dari masjid Al Anwar merupakan tempat para santri Pasuruan mengais rejeki. Selain itu di sepanjang jalan dan alun-alun juga ada jasa ojek dan tukang becak yang menyediakan jasa angkut bagi para peziarah. Di kanan kiri masjid Agung Pasuruan juga terdapat banyak toko yang menyediakan berbagai macam keperluan, dari souvenir, sembako, makanan, perlengkapan kaum santri seperti tasbih, songkok, sajadah hingga oleh-oleh haji dan umroh. Berbagai macam jenis dagangan tersedia, dari angkringan, bakso, minuman, pakaian, bahkan barang-barang loakan juga tersedia. Tak ketinggalan angkringan untuk mendapatkan minuman penghangat (wedang jahe) atau minuman kesehatan STMJ juga tersedia. Angkringan ini menjadi media sosial bagi masyarakat untuk bercengkerama, bertukar informasi, melepaskan penat, atau hanya bersenda gurau, selain untuk mengisi perut lapar. Tidak ketinggalan aksi jepret sana jepret sini dengan kamere pintarnya, ambil gambar saat makan, lalu dikirim ke grup media sosial..inilah santri zaman now.
 
Keempat, alun-alun. Tempat ini menjadi bagian dari medan budaya santri untuk melepas penat dan sekedar menyalurkan hobi santri zaman now, apalagi kalau bukan untuk ber-selfie. Di alun-alun ini begitu indah di malam hari, dihiasi oleh gemerlap lampu taman, gerbang masuk yang begitu megah, dan juga tulisan “Alun-alun Pasuruan” yang penuh lampu hias di malam hari menambah keindahan suasana. Akan tampak juga pemandangan para santri yang dengan lahapnya menyantap bekal yang dibawanya atau sekedar nasi bungkus yang dibeli dari warung angkringan. Ya..mereka itulah santri dari luar daerah yang melakukan ziarah ke makam Mbah Hamid. 
 
Masjid, makam, pasar, dan alun-alun inilah yang menjadi medan budaya santri di Kota Pasuruan ini. Tempat dimana mereka melakukan aktifitas, ritual peribadatan, sosial, ekonomi, dan tak ketinggalan aktifitas santri zaman now, yaitu swafoto (selfie).(*)
 
Penulis adalah Dr. Samidi Khalim, M.S.I
Penulis adalah Peneliti Sosial Keagamaan di Balai Balai Litbang Agama Semarang dan Ketua LTN NU Kota Semarang

Comments