Hari Santri Nasional 2017

Resolusi Jihad Wujud Semangat Juang Kemerdekaan Indonesia

Resolusi Jihad NU (Desain: Dena Setya Utama/Nukita.id)

NUKITA.ID, SURABAYAIndonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, namun belum genap 1 bulan usia kemerdekaan, Indonesia langsung mendapat ujian yang berat. Tentara sekutu (Inggris) yang membonceng tentara Belanda mendarat di Jakarta dan kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, Jakarta, Malang, dan kota lainya di Indonesia.

Presiden pertama Republik Indonesia, Dr Ir H Soekarno (Bung Karno) dan Wakilnya, Dr Drs H Mochamad Hatta (Bung Hatta) berupaya melakukan upaya diplomasi untuk mendorong tentara sekutu bekerja profesional hanya mengurus tahanan saja dan tidak mengutak-atik status kemerdekaan Indonesia. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil.

Dan saat itu juga Bung Karno menganalisa, bila sampai terjadi peperangan secara sistematis, Indonesia pasti tidak akan bisa mengalahkan Tentara Inggris. Karena, persenjataan Tentara Inggris jauh lebih lengkap dan keahlian militernya lebih memadai.

Panglima Besar Jenderal Sudirman pun memberi saran kepada Bung Karno untuk mengirim utusan khusus kepada Rois Akbar Nadhatul Ulama (Pendiri Nahdlatul Ulama), Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Secara khusus Jenderal Sudirman memohon kepada Kiai Hasyim mengeluarkan komando 'Jihad fi Sabilillah' dan meminta fatwa kepada Kiai Hasyim tentang bagaimana hukum berjihad membela bangsa dan negara yang notabene Indonesia bukanlah negara Islam.

Karena pada saat itu Tentara Inggris telah menguasai wilayah Keresidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang dipimpin oleh ulama-ulama NU menjadi korban. Lantas Kiai Hasyim memanggil KH Wahab Hasbullah Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Kiai Wahab diminta untuk mengumpulkan para Ketua NU se Jawa-Madura untuk membahas persoalan ini, bukan hanya itu saja, Kiai Hasyim juga meminta kepada para Kiai-kiai 'khos' (utama) NU, untuk melakukan salat istikharah, salah satunya adalah Kiai Abbas Pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, Jawa Barat.

Kemudian pada 21 Oktober 1945 seluruh delegasi NU se Jawa-Madura telah berkumpul di Kantor Pusat Ansor di Jl. Pungutan, Surabaya. Kiai Hasyim langsung memimpin pertemuan tersebut dan kemudian dilanjutkan oleh Kiai Wahab.

Akhirnya, setelah berdiskusi cukup panjang dan mendengarkan hasil istikharah para Kiai-kiai 'khos' NU, pada keesok siangnya tanggal 22 oktober 1945 pertemuan menghasilkan 3 rumusan penting yang kemudian di kenal dengan istilah 'Resolusi Jihad NU'.

Berikut ini adalah isi dari 'Resolusi Jihad NU' sebagaimana pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945.

Salinan di bawah ini telah disesuaikan ejaannya untuk masa kini:

Bismillahirrahmanirrahim

Resolusi Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama se Jawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya:

Mendengar:

Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat ummat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan Agama, Kedaulatan Negara Republik Indonesia Merdeka.

Menimbang:

a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum Agama Islam, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam.

b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Ummat Islam.

Mengingat:

a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.

b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan umat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya.

d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.

Memutuskan:

1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangannya.

2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat "Sabilillah" untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Dan hanya berselang 3 hari pasca Resolusi Jihad NU dicetuskan, 6.000 tentara Inggris mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dengan persenjataan lengkap.

Mendengar kedatangan pasukan Inggris menyerbu Kota Surabaya, Ribuan Santri, Mujahidin, dan para Kiai se-Jawa Timur bergerak menuju Surabaya dan situasi pun terus memanas dan cenderung tidak terkendali.

Resolusi Jihad NU yang telah didengungkan telah memompa semangat perlawanan rakyat dan memicu terjadinya pertempuran hebat selama 3 hari 3 malam di Surabaya, tanggal 27-29 Oktober 1945.

Tentara Inggris kewalahan menghadapi perlawanan para Santri, Mujahid, Pemuda, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan Rakyat se-Jawa Timur. Inggris lantas mendatangkan Bung Karno ke Surabaya untuk di ajak berunding melakukan gencatan senjata.

Pagi hari tanggal 30 Oktober 1945 gencatan senjata di tandatangani pemerintah Indonesia dan Inggris, namun pada sore harinya terjadi insiden di Jembatan Merah yang menewaskan orang nomor 1 tentara Inggris di Surabaya yaitu Jenderal Mallaby, gencatan senjatapun langsung berakhir.

Pengganti Jenderal Mallaby yaitu Jenderal Robert Mansion meng-ultimatum Laskar Pejuang dan Tentara Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Inggris paling lambat 10 November 1945, jika tidak Inggris mengancam akan membumi hanguskan Surabaya dan memborbardir dari 3 arah sekaligus laut, darat, dan udara.

Mendengar ancaman itu, para Komandan Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah, Mujahidin, dan para Santri marah besar. Seorang pemuda bernama Soetomo atau yang lebih akrab di panggil Bung Tomo sowan kepada Kiai Hasyim untuk meminta izin untuk menyebarluaskan Resolusi Jihad melalui siaran radio.

Inilah isi pidato Bung Tomo:

Saudara-saudara!

Rakyat jelata di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamplet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari Tentara Jepang, mereka telah minta supaya datang pada mereka dengan mengangkat tangan, mereka meminta supaya kita semua datang pada mereka dengan membawa bendera merah putih tanda bahwa kita telah menyerah.

Saudara-saudara!

Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya, pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi pemuda-pemuda yang berasal pulau bali pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing dengan pasukan-pasukan rakyat yang di bentuk di kampung-kampung telah menunjukkan satu kekuatan sehinggga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik dari pada mereka itu saudara-saudara dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri dan setelah kuat sekarang inilah keadaanya.

Saudara-saudara!

Kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini dengarkanlah tentara Inggris, ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya ini jawaban pemuda Indonesia kapada kau sekalian.

Hai tentara inggris!

Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera merah putih untuk takluk kepadamu, kau menyuruh kita mengangkat tangan kepadamu, dan kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu. Tuntutan itu walaupun kita tahu kalau kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:

"Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga."

Saudara-saudara!

Rakyat Surabaya siaplah! Keadaan genting! Tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak baru kalau kita ditembak maka kita akan ganti menyerang mereka, tunjukkan bahwa kita ini benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka semboyan kita tetap, "merdeka atau mati!."

Dan kita yakin saudara-saudara pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar percayalah saudara-saudara tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Merdeka!

Pemuda Ansor 1945 dari Jember, Jawa Timur, KH Ahmad Muchid Muzadi mengatakan, "Hai, tentara Inggris, ayo kita berperang, kita ini tidak takut, kalau mati kita syahid, kalau hidup kita akan menjadi bangsa yang merdeka."

Ustadz Muhammad Yahya Waloni (Pendeta yang Muallaf) dari Manado Sulawesi. Mengatakan, "Indonesia itu merdeka bukan dengan teriakan 'Haleluya' akan tetapi dengan teriakan dan Pekikan Takbir, Allohu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.."

Pasukan terdepan yang bertempur di Surabaya adalah:

1. Laskar Hizbullah yang di pimpin oleh KH Zainal Arifin, dari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Wafat di Jakarta.

2. Laskar Sabilillah yang di pimpin oleh KH Masykur, dari Pondok Pesantren Mishbahul Wathon (Pelita Tanah Air), Singosari, Malang Jawa Timur.

3. Barisan Mujahidin Indonesia yang dipimpin oleh KH Wahab Hasbullah dari Pondok Pesantren Tambak beras, Jombang, Jawa Timur.

4. Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) sebagian besar batalionnya dipimpin oleh tokoh NU seperti perwira berpangkat 'Daidancho' (Mayor), Hamid Rusdi, adalah pahlawan yang menjadi nama jalan di Malang adalah Ketua Gerakan Pemuda Ansor Malang dan perwira dengan pangkat 'Syudanco' (Komandan kompi), Brigjen Abdul Manan Wijaya adalah santri Tebuireng juga didikan PETA, termasuk Brigjen KH Sullam Syamsun.

5. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan salah satu pemimpinya, HR Mohamad Mangoendiprodjo yang lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Januari 1905. Dia adalah cicit Setjodiwirjo atau Kiai Ngali Muntoha yang tak lain adalah keturunan Sultan Demak dan Prabu Brawidjaja.

Setjodiwirjo merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Keduanya memperluas pemberontakan melawan penjajah Belanda hingga ke daerah Kertosono, Ngawi, dan Banyuwangi, Jawa Timur.

Resolusi Jihad NU (Sejarah yang terlupakan) Cukup di sayangkan, karena Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 tidak tercatat dalam sejarah resmi Indonesia.

Ada upaya untuk menghilangkan jejak peran para Santri dan Kiai dalam memperjuangkan kemerdekaan. Hal itu diduga terkait dengan kebijakan Rasionalisasi, Nasionalisasi dan Modernisasi TKR, yang mengakibatkan para milisi terdepak dari TKR.

Walau sedikit kecewa pada pemerintah saat itu, tapi para pejuang NU tetap sadar bahwa mereka berjuang bukan untuk pemerintah, tapi membela negara dan tanah air, mereka tetap setia dengan Resolusi Jihad dan tetap selalu menjaga serta membela NKRI.

Mereka tidak pernah berfikir untuk melawan pada pemerintah yang sah, apalagi memberontak dan kudeta, bahkan mereka berperang lagi menghadapi agresi militer Belanda tahun 1947-1948.

Semoga yang gugur membela NKRI menjadi 'Syuhada'. Aamiin.

Selamat Hari Santri Nasional!

 

*)dirangkai dari banyak sumber

Penulis adalah Dena Setya Utama, Mahasiswa Universitas Islam Raden Rahmat, Program Studi Sistem Informasi, Semester 1

Berita Lainnya

berita terbaru

Pelajar Milenial Melek Digital

26/10/2018 - 15:48

berita terbaru
Konferwil PW IPNU Jatim 2018

IPNU Dihadapkan Pekerjaan Rumah yang Berat

30/07/2018 - 12:59

berita terbaru
Hari Santri Nasional 2017

Habib Ja'far: Peringatan Hari Santri Masyaallah...

22/10/2017 - 21:38

Comments