Hari Santri Nasional 2017

Menilik Sejarah Hari Santri Nasional

Foto: Dena Setya Utama/Nukita.id

NUKITA.ID, MALANGHari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober mendatang diperingati serentak se-Indonesia bahkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di luar negeri memiliki arti, makna, dan filosofi yang besar bagi bangsa Indonesia, sehingga perlu diketahui sejarah dan latar belakang ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional.

Menilik sejarah dari pandangan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu Organisasi yang turut serta dalam menumpas para penjajah adalah berawal dari 'Resolusi Jihad' yang dicetuskan oleh pendiri NU, KH Hasyim Asyari.

Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Kiai Hasyim pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya untuk mencegah kembalinya tentara kolonial belanda yang mengatasnamakan 'Nederlandsch Indië Civil Administratie atau Netherlands-Indies Civil Administration' (NICA).

NICA merupakan organisasi semi militer yang dibentuk pada 3 April 1944 yang bertugas mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah kolonial Hindia Belanda selepas kapitulasi pasukan pendudukan Jepang di wilayah Hindia Belanda (sekarang Indonesia) seusai Perang Dunia II (1939 - 1945).

Kiai Hasyim sebagai pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa, "Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu 'ain atau wajib bagi setiap individu."

Seruan Jihad yang dikobarkan oleh Kiai Hasyim itu membakar semangat para santri dan 'Arek-arek Suroboyo' (Pemuda Surabaya) untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby atau juga dikenal dengan Brigadir Jenderal Mallaby yang lahir di Britania Raya, 12 Desember 1899 dan meninggal di Surabaya, 30 Oktober 1945 pada umur 45 tahun.

Jenderal Mallaby pun tewas dalam peristiwa baku tembak di Surabaya yang berlangsung 3 hari berturut-turut tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Dia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan inggris yang tewas saat itu dan memicu keluarnya ultimatum Inggris dan meledaknya Pertempuran 10 November.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai hari Pahlawan.

Kemerdekaan indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjaah dari bumi Indonesia.

HSN memiliki arti dan makna yang penting bagi kalangan santri sendiri dan segenap elemen bangsa karena dalam sejarah, peran mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Mereka ikut merebut Indonesia, membangun Indonesia dan mempertahankan NKRI.

Sekarang ini, sejak 22 Oktober ditetapkan sebagai HSN pada tahun 2015 lalu, hari itu menjadi refleksi bagi golongan santri dan bangsa untuk mengingat kembali sejarah perjuangan kaum pondok pesantren dalam berjuang melawan penjajah.

Refleksi dan ingat kembali pada sejarah adalah sesuatu yang penting. Ingatan sejarah akan memberikan bekal bagi para santri pada zaman modern sekarang ini untuk selalu berbenah, memperbaiki kualitas diri demi kemajuan bangsa Indonesia ke depan.

Dengan demikian, HSN memiliki arti, makna dan filosofi yang bukan hanya diperingati secara euforia atau seremonial belaka, tetapi menjadi momentum untuk refleksi yang kemudian menjadikan dasar refleksi itu untuk berbenah dan terus meningkatkan kualitas santri demi kemajuan bangsa.(*)

Berita Lainnya

berita terbaru

Pelajar Milenial Melek Digital

26/10/2018 - 15:48

berita terbaru
Konferwil PW IPNU Jatim 2018

IPNU Dihadapkan Pekerjaan Rumah yang Berat

30/07/2018 - 12:59

berita terbaru
Hari Santri Nasional 2017

Habib Ja'far: Peringatan Hari Santri Masyaallah...

22/10/2017 - 21:38

Comments