Hari Santri Nasional 2017

Sejarah Hari Santri Nasional: Berawal Dari Pagelaran

Hari Santri Nasional! (Design: Nukita.id)

NUKITA.ID, MALANG – Lahirnya Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap 22 Oktober di seluruh penjuru Nusantara itu tidak terlepas dari peran seorang kiai bernama Thoriq bin Ziyad, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Thoriq bin Ziyad yang akrab disapa Gus Thoriq itu menyampaikan sejarah HSN di saat mengisi sambutan pada acara launching kegiatan "Dzikir dan Doa" untuk Kaum Pemuda serta pembacaan Sholawat Nariyah serentak di Masjid Quba, Karangsuko, Rabu (4/10/2017).

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Pagelaran launching kegiatan "Dzikir dan Doa" untuk Kaum Pemuda serta pembacaan Sholawat Nariyah serentak di Masjid Quba, Karangsuko, Rabu (4/10/2017).

Sebelum Gus Thoriq memberikan sambutan, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Pagelaran, Marsidi terlebih dulu mengajak para santri NU untuk mensukseskan Hari Santri Nasional (HSN) yang akan di peringati tiap 22 Oktober ini.

"Kami mengajak untuk mensukseskan Hari Santri Nasional (HSN) yang akan di peringati tiap 22 Oktober ini, dan diharapkan semua pihak ikut mendukung dan bekerjasama terlebih kepada para tokoh agama serta para pejabat pemerintahan Desa Karangsuko," tegasnya.

Dia juga bercerita sedikit tentang lahirnya hari santri nasional, tidak lain pencetusnya adalah dari Kecamatan Pagelaran. "Pencetus Hari Santri adalah dari Kecamatan Pagelaran, karena dulu saya juga pernah menjadi ketua IPNU disini."

"Dulu pada tahun 2000 saya adalah ketua IPNU dan penetapan Hari Santri Nasional yang diumumkan Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) beberapa waktu lalu juga menjadi hari bersejarah bagi kami, karena hasil perjuangan para pemuda NU tidak sia-sia," tambahnya.

Marsidi juga menambahkan jika tiga tahun lalu, Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang begitu riuh dengan hadirnya seorang Calon Presiden yang tengah melakukan kampanye.

"Seperti biasa, sang Calon Presiden dengan pakaian "kebesarannya" baju putih lengan panjang dan celana panjang warna hitam datang jauh dari hiruk pikuk dan gemerlapnya dunia perkotaan bisa memberi hadiah dengan adanya Hari Santri Nasional ini. Karena pada saat itu, Bapak Jokowi berjanji jika memang terpilih menjadi orang nomor satu di Tanah Air, ide HSN tersebut bakal direalisasikan," tegasnya. 

Gus Thoriq pun menceritakan proses lahirnya Hari Santri Nasional tersebut dalam sambutanya. Berawal pada 2009, Hari Santri Nasional dideklarasikan pada 18 Desember, bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram di Ponpes Babussalam, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran dan ketika deklarasi pertama, hadir beberapa nama tokoh, yaitu Yenny Wahid, Saifullah Yusuf, dan Kiai Kholil Asad Syamsul Arifin dari Situbondo.

"Sebenarnya, deklarator pertama Hari Santri Nasional adalah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 RI), namun sebelum gagasan itu terwujud, Gus Dur meninggal dunia. Dan dua tahun kemudian (2011) saat 1 Muharram, masih di Ponpes Babussalam, peringatan Hari Santri Nasional dihadiri oleh Anas Urbaningrum. Dan tahun berikutnya (2012), peringatan Hari Santri dilangsungkan di Universitas Negeri Jember (Unej)," kata Gus Thoriq.

Dukungan terhadap Hari Santri Nasional pun datang dari KH Said Aqil Siraj kemudian Gus Thoriq memberikan surat rekomendasi untuk disampaikan kepada Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono), surat tersebut berisi tentang penetapan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional.

Pada 2014, Joko Widodo (Calon Presiden RI) hadir di Ponpes Babussalam dan berjanji bila menjadi Presiden RI, siap berjuang dan menetapkan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Tepatnya 15 Oktober 2015, Presiden RI Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Gus Thoriq sebagai pencetus ide adanya Hari Satri Nasional itu mengapresiasi penetapan Hari Santri tersebut, namun menurutnya ada satu hal yang masih belum terwujud. "Keppres Nomor 22 Tahun 2015 menetapkan Hari Santri, bukan Hari Santri Nasional," pungkasnya.(*)

Berita Lainnya

berita terbaru
Ulama Aswaja

NU dan Thoriqot Two in One .

22/07/2019 - 09:21

berita terbaru
Gerakan Pentong Koin NU

Dana KOIN Klunting MWC NU Turen Penuh Amanah

22/07/2019 - 07:55

Comments