Rohingya .. Oh, Rohingya

Ketua Lembaga Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kabupaten Malang, H Abu Yazid AM. (Foro: Nukita.id)

NUKITA.ID, MALANGKasus Rohingya memang dahsyat, terutama bagi tiap manusia yang masih memiliki rasa empati kepada sesama dan rasa cinta kasih sayang kepada saudara, tragedi Rohingya memang memilukan hati siapa saja.

Hanya orang yang tidak memiliki rasa kemanusiaan yang menganggap kasus pengusiran suku Rohingya sebagai kasus biasa. Dan hanya orang muslim egois saja yang tidak akan tersayat hatinya tatkala melihat saudara mereka dianiaya, apapun alasannya.

Bukan hal penting apakah yang menjadi alasan mereka diusir dan dianiaya oleh antek para junta maupun para biksu yang tengah buta hati dan buta mata; baik alasan ekonomi, politik maupun status sosial kewarganegaraan mereka. 

Karena kedholiman tetaplah kedholiman. Dan perampasan hak hak kewarganegaraan merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa dibenarkan. Jika memang ada masalah, apakah kekerasan jalan satu satunya?

Namun sebagai manusia biasa yang lemah tak berdaya kita harus sadar bahwa realita pahit yang terjadi pada sesama terkadang merupakan jalan takdir yang sudah digariskan melalui sunnah-sunnahNya. 

Itu sebabnya kita harus tetap optimis bahwa pasti akan ada banyak hikmah yang akan bisa ditemukan di balik realita yang sudah dibuat dalam garis qodlo qodarNya.

Andai Rasulullah tidak kalah dalam perang Uhud dan sayidina Hamzah dicabik cabik jantungnya tidak mungkin umat Islam akan mengerti makna kekalahan untuk dijadikan intropeksi dalam merajut kemenangan.

Andai para sahabat tidak berkonflik dan perang saudara dalam peristiwa al fitnatul kubro, tidak mungkin para sahabat akan eksodus ke kawasan lain sehingga ilmu Allah dan dakwah Rasulullah bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia. 

Tanpa Hulagu Khan menghancurkan Bayt al Hikmah dan membuang semua buku serta khasanah intelektual Islamnya mustahil umat Islam akan tersadarkan untuk bangkit dari kebekuan pemikiran dan tidur panjang.

Hingga tanpa timur tengah terjadi konflik secara berterusan, tidak mungkin Indonesia akan mendapat berkah dengan didatangi oleh para ulama yang kini menjadi negeri harapan satu satunya bagi umat Islam.

Realita pahit yang dialami umat Islam kadang memang harus disikapi dengan pola pikir yang positif, karena qodlo qodar Allah hakikatnya adalah garis terbaik untuk menemukan hikmah dalam kehidupan. Pun, yang terjadi pada rakyat Rohingya.

Maka daripada berdebat urusan Rohingya dengan pengikut bumi datar lebih baik kita mencari solusi untuk mengatasinya. Karena nyatanya banyak ragam solusi yang bisa dilakukan umat untuk membantu mereka.

Menggalang dana sosial maupun dana  kemanusiaan adalah jalan termulia bagi siapa saja. Manakala bagi ulama dan santri 'kere' kayak saya membaca doa dan qunut nazilah itu sdh cukup membantu mereka.

Jalan terbaiknya adalah diplomasi politik dengan memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk melobby agar Junta militer dan pihak pihak yang berkepentingan di bumi Rakhine bisa menghentikan kekerasan agar tidak lagi jatuh korban.

Minimal diplomasi G-2-G diarahkan agar bantuan kemanusiaan yang dikumpulkan segera dapat disalurkan bagi mereka yang membutuhkan.

Jika memang kita tidak dapat melakukan, bersikap diam adalah jalan terbaik agar kita justru tidak menambah persoalan. Karena berbicara tanpa melakukan apa apa hanya akan mendatangkan dosa dan nambah sengsara.

Intinya saya hanya merasa aneh dengan kelompok orang yang membantu Rohingya dengan cara mencari musuh maupun memusuhi orang Budha yang tidak punya hubungan dengan Burma. Apa menghentikan permusuhan dengan memusuhi orang itu ajaran Islam?

Balas dendam hanya akan menambah persoalan, karena ujung ujungnya dendam hanya akan memperkeruh permusuhan dan makin hilangnya kedamaian yang kita impi-impikan.

Sisi lain ada juga yang membantu Rohingya dengan cara 'menyerang' penguasa maupun maido sesama, seakan akan dialah yang paling peduli dengan muslim Rohingya. Apa tragedi Rohingya akan selesai dengan menyebar meme kebencian untuk 'maido' sesama?

Di jaman fitnah ini memang semua issu apapun bisa 'digoreng' untuk komoditas  politik dan menggasak siapa saja. Bahkan tragedi kemanusiaan pun bisa dipakai untuk pencitraan politik dan mencari muka bagi siapa saja. Dari para politisi busuk, imam kelompok tertentu hingga kepala negara.

Tak terkecuali tragedi Rohingya yang jauh di seberang sana ternyata bisa dipakai oleh pihak tak bertanggung jawab yang 'gila kuasa' untuk mendongkel kewibawaan penguasa dengan cara mengadu domba rakyat jelata. Maklum, 'Saracen' kini tengah melanda dimana mana.

Maka, yakinlah bahwa rakyat Rohingya adalah rakyat yang sabar karena mereka kini diuji oleh Allah agar mereka mengerti makna perjuangan dan arti kesabaran.

Bantulah mereka dengan cara cerdas dan dingin pemikiran. Karena mengatasi masalah dengan cara emosional justru akan menampakkan betapa bodohnya umat Islam, dan betapa kita mudah dipermainkan oleh 'dajal akhir jaman' yang ingin agar umat Islam mengalami kehancuran.

Salam damai Islam Nusantara 
Untuk rakyat Rohingya.

*Oleh Ketua Lembaga Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kabupaten Malang, H Abu Yazid AM.

Comments