Kata Gus Dur, Tuhan Tidak Perlu Dibela...

Ketua Dewan Syuro DPP PKB Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi keterangan kepada wartawan di Gedung PB Nahdlatul Ulama, Jakarta, Jumat (19/6/2009). (Foto: Istimewa)

NUKITA.ID, JAKARTA – Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur pernah menulis sebuah artikel yang menjadi bahan perbincangan dan diskusi hingga saat ini.

Artikel berjudul 'Tuhan Tidak Perlu Dibela' yang ia tulis itu diterbitkan oleh Tempo pada 28 Juni 1982, kemudian menjadi judul buku kumpulan tulisan Gus Dur.

"Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri," tulis Gus Dur di bagian akhir artikelnya.

"Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan," kata dia.

Artikel tersebut menuturkan kisah Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri dan pulang ke tanah air.

Delapan tahun ia tinggal di negara yang tak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak ada satu pun media massa Islam.

X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana saja ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim.

Dalam khotbah Jum'at yang didengarnya seminggu sekali. Dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da'i.

Akhirnya X mendapatkan jawaban atas fenomena tersebut dari seorang guru tarekat. Dari situ ia memperoleh kepuasan.

Jawabannya ternyata sederhana saja. "Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya," tulis Gus Dur.

Dengan mengutip perkataan tokoh Sufi Al-Huwiri, Gus Dur mengungkapkan, bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir.

Allah tidak perlu disesali kalau ia "menyulitkan" kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya.

Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.

Jika mengikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, kata Gus Dur, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu ditanggapi.

Jika tudingan itu berlebihan, cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.

Masih relevan

Direktur Nahdlatul Ulama (NU) online Savic Ali menuturkan bahwa tulisan Gus Dur tersebut masih relevan untuk dibaca dan dipahami hingga saat ini.

Di tengah maraknya ujaran kebencian dan konflik sektarianisme, masyarakat membutuhkan pemahaman yang positif dan konstruktif terhadap isu-isu agama.

"Gus Dur lebih setuju pendekatan yang positif-konstruktif ketimbang yang defensif serta reaksioner. Seperti yang diekspresikan kelompok-kelompok garis keras," ujar Savic saat dihubungi, Rabu (6/9/2017).

Menurut Savic, Gus Dur pada dasarnya ingin mengingatkan agar jangan mudah mengatasnamakan Tuhan dan agama dalam sebuah gerakan.

Dia tidak menampik adanya kontradiksi antara modernitas dan nilai-nilai ideal Islam sebagaimana dipahami banyak orang.

Kontradiksi itu, kata Savic, tidak mudah untuk dipecahkan.

"Tapi lantas mengatasnamakan Tuhan untuk memusuhi modernitas bukan hal yang bijak," ucapnya.

Melalui tulisan 'Tuhan Tidak Perlu Dibela', lanjut Savic, Gus Dur mengajukan pendekatan sufistik untuk memecahkaan kontradiksi itu.

Secara tersirat Gus Dur mengingatkan agar manusia sadar bahwa Tuhan itu Maha Besar dan Maha Segalanya, yang tak perlu dibela dengan berapi-api.

"Karena boleh jadi kita bukan sedang membela Tuhan, melainkan membela kepentingan dan pandangan kita sendiri," kata Savic.(*)

Sumber: Kompas

Comments