"Malam-malam Kangen Gus Dur", Puisi dari Seorang Pastor

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga Ketua Umum Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa menjawab pertanyaan di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (29/7/2005). (Foto: Istimewa)

NUKITA.ID, UNGARAN – Kepala Campus Ministry Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang Romo Aloys Budi Purnomo Pr menuturkan, wafatnya Gus Dur justru melahirkan perjumpaan spiritual dan sosio kuktural melalui berbagai gerakan kebangsaan dan keberagaman yang bermuara pada kerukunan, kesejahteraan dan keadilan.

"Saat ini, dibutuhkan lahirnya jutaan Gus Dur baru untuk bangsa dan masyarakat kita," kata Romo Budi di Paroki Ungaran, Kamis (7/9/2017) siang.

Menurut Romo Budi yang juga Wakil Ketua FKUB Jawa Tengah ini, saat ini menjadi tantangan bagi para Gusdurian, sebutan bagi para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur untuk menggaungkan ajaran-ajaran Gus Dur dalam setiap lini kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Inilah tantangan kita bersama. Bahkan, itulah dalam arti tertentu, kado yang bisa kita hadiahkan kepada mendiang Gus Dur," tuturnya.

Romo Budi mengungkapkan, kecintaannya terhadap Gus Dur kendati perjumpaannya hanya melalui tulisan-tulisan karya Gus Dur, diwujudkan dalam kerja nyata secara intens terlibat dalam kampanye keberagaman yang digagas oleh mendiang isri Gus Dur, Sinta Nuriyah.

Bahkan kecintannya kepada Gus Dur dituangkannya dalam sebuah puisi, saat dirinya masih bertugas di Pastoran Kebon Dalem Semarang tahun 2004.

"Ini satu puisi yang saya buat dan beberapa kali saya bacakan dalam event mengenang Gus Dur saat di Kebon Dalem Semarang," ucapnya.

Berikut puisinya:

Malam-malam kangen Gus Dur Gus

Malam ini tiba-tiba saya Kangen Panjenengan... 
Itu gara-gara undangan yang malam ini kuterima tertaruh rapi di atas meja makan Pastoran Pinggir Kali Kebon Dalem... 
Ia tak sekadar kertas melainkan berkas penuh berkah 
Saat saya boleh mengenang kehadiran Panjenengan dalam membela siapapun yang diperlakukan hina, nista dan tidak adil 
Oleh siapapun yang bahkan menyerukan pekik: Allahu Akbar... 
Dan Panjenengan lawan dengan hakikat Islam sebagairahmatan lil' alamin
Undangan itu penuh kehormatan yang membuatku tersanjung...

Gus, Undangan untuk sowan ke Ciganjur dan melangitkan Kenangan dan Doa dalam rangka Haul ke-5 Panjenengan Gus... 
Ya Panjenengan yang saat ini ngayomi tak hanya keluarga besar Ciganjur 
melainkan anak-anak negeri ini dari surga, tempat Panjenengan menanti kami semua

Gus..., tiba-tiba "Syi'ir Tanpa Waton" yang Panjenengan tulis dan hayati mengalun lembut di hatiku juga bersama malam yang meloncat menuju dini hari 
Kuingat perjuangan seumur hidup Panjenengan agar negara dapat menjadi institusi yang mengayomi keberagaman seperti Panjenengan sendiri menghayatinya

Dan di malam seperti ini,
pastilah tak terlewatkan bagaimana Panjenengan ber-zikir tengah malam berduaan
dengan sang kekasih jiwa-raga diiringi musik tabla dalam hati yang suci
menggapai mahabbah, kecintaan dan ketakdziman mendalam kepada Nabi Muhammad
dan sujud di hadirat Allah Gusti Pangeran 
dan membuat Panjenengan tak hendak tidur hingga subuh bersama pagi yang luluh

Selamat malam menjelang pagi Gus 
Doakanlah bangsa ini agar kian menjadi bangsa penuh berkah 
bagi setiap warganya dan sejahtera seperti yang selalu Panjenengan cita-citakan
Selalu tanpa kendor meski Panjenengan pun diserang teror 
Hanya ini yang bisa kugoreskan di remang-remang kerinduan saat hatiku kangen Panjenengan... 
Selamat Malam menuju pagi. 
Biarlah demokrasi berlandaskan hati turut merekah bersama fajar di esok hari
di seluruh waktu yang terus melaju

Girli Kebon Dalem, 18/12/2014 00.56.(*)

Sumber: Kompas

Comments