Menepis Anggapan Bahwa Memakan Buah Khuldi adalah Satu Dosa

Menafsir Ulang Kisah Turunnya Adam ke Bumi

Ilustrasi

NUKITA.ID, MALANG –  

قصة سيدنا آدم عليه السلام مع إبليس

Firman Allah:   [ويا آدم اسكن...]

 "Wahai Adam, tinggallah..."
Kata "uskun" bermakna menempati untuk sementara waktu. Maka pahamlah sayyidina Adam bahwa dia tidak akan berlama-lama tinggal di surga saat itu.

Dan jika saja Nabi Adam terus tinggal di surga (surga ujian) dulu, maka tentunya beliau tidak akan bisa menempati posisi kenabian dan kholifah Allah di bumi. Nabi Adam harus diuji dan dilatih sebelum menjadi seorang Nabi.

Kalau saja Nabi Yusuf hanya bermanja-manja di samping ayahnya Nabi Ya'qub, tidak mungkin Yusuf jadi nabi. Harus dicoba terlebih dahulu dalam keganasan hutan dan penjara.

Nabi Musa juga begitu. Tidak akan jadi nabi kalau hanya tinggal enak-enakan di istana Fir'an waktu itu. Nabi Musa harus keluar dari istana, melakukan pekerjaan berat untuk bertahan hidup.

Semua nabi sebelumnya juga diberi ujian yang sangat berat sebelum Allah jadikan mereka sebagai orang-orang pilihan.

Nah, begitu juga dengan Nabi Adam AS. Saat awal tercipta, Allah menjadikan surga sebagai tempatnya. Itu adalah bentuk penghormatan.  Allah "memanjakan" Nabi Adam dan Ibu Hawa di surga pada awal-awal penciptaannya.

Iblis lantas berusaha bagaimana caranya nabi Adam dan Hawa keluar dari surga. Mula-mula -sebagai mana dalam Qur'an- Iblis berkata:
[يا آدم هل أدلك على سجرة الخلد وملك لا يبلى]  (طه: 120)
"Wahai Adam, maukah engkau aku tunjukkan pohon khuldi (kekal) dan kerajaan yang tidak akan binasa?"

Rayuan itu tidak membawa pengaruh karena Nabi Adam AS. tahu bahwa beliau tercipta untuk keabadian, dan bahwa posisinya di surga menjadi makhluk mulia, karena semua makhluk diperintahkan bersujud di hadapannya.

Iblis pun mencoba lagi. Dia berkata:
[ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا ملكين أو تكونا من الخالدين]     (الأعراف: 20)
"Tuhan kamu tidak melarang kamu berdua mendekati pohon ini, kecuali agar kamu berdua tidak menjadi malaikat dan tidak termasuk hamba yang kekal"

Tipuan ini pun tidak mempan. Bagaimana mungkin iblis mengatakan bahwa Adam dan Hawa bisa jadi malaikat yang kekal di surga, sedangkan semua malaikat sudah bersujud kepada beliau Alaihissalam.

Menyadari kalau Nabi Adam tetap tidak bisa terpedaya dengan tipuan-tipuannya, iblis pun berusaha lagi. Firman Allah:
[وقاسمهما إني لكما لمن الناصحين]   (الأعراف: 21)
"Dan dia (iblis) bersumpah kepada keduanya: sesungguhnya aku termasuk orang yg memberi nasehat bagi kamu berdua]

Iblis bersumpah atas nama Allah. Iblis menggunakan nama Allah untuk mengelabui Nabi Adam dan ibu Hawa. Di sinilah nampak adab kesantunan dan derajat kenabian Adam atas nama Allah SWT.

Memang, sebelumnya Allah telah menegaskan bahwa Iblis adalah musuh bagi Adam. Namun Allah tidak mengabarkan bahwa iblis bisa berbohong, lebih-lebih berbohong dengan menggunakan nama Allah.

Ketika Nabi Adam mendengar nama Allah disebut, beliau beranggapan bahwa itu merupakan kehendak Tuhan, dan menjalaninya merupakan satu ketaatan. Meskipun secara dhohir itu adalah sebuah kemaksiatan. Pada aspek ini, beliau mengajarkan kepada kita: beretika santun kepada pemilik ajaran syari’at lebih utama dari syari'at itu sendiri.

Dan ketika Nabi Adam makan buah terlarang tersebut, maka sejatinya itu merupakan bentuk penghormatan sekaligus wujud kesantunan beliau Alaihissalam terhadap Allah SWT, dan bukan atas dasar Syahwat yang tergoda rayuan iblis.

Dari sini jelas sudah, jika secara dhohir apa yang dilakukan Nabi Adam itu satu kemaksiatan yang berakibat turunnya posisi beliau dari surga ke bumi. Namun secara batin, itu merupakan satu ketaatan, kesantunan untuk memuliakan Allah SWT.

Dengan alasan ini, tidak benar jika kita mengutip ayat ini dan menjadikannya dasar untuk menjustifikasi seorang nabi:
[وعصى آدم ربه]   (طه: 121)،
"Dan Adam telah melakukan kemaksiatan kepada Tuhannya".

Yang kita lakukan adalah hanya membaca ayat tersebut dengan menyebut nama Allah yg Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (basmalah). Yakni, sejatinya kita hanya menjadi wakil (niyabatan) Allah membacakan firman-Nya. Karena sayyidina Adam adalah seorang nabi yang maksum (terpelihara dari perbuatan dosa), dan tidak melakukan satu kemaksiatan. Maka tidak sesuai jika kita memotong makna sebuah ayat untuk menjustifikasi seorang nabi yang maksum.

Rasulullah pernah bersabda: "Nabi Musa pernah menyalahkan Nabi Adam, seraya berkata: karena dosamu, umat manusia harus keluar dari surga dan menderita di bumi. Adam pun menjawab: wahai Musa, engkau telah menjadi orang pilihan Tuhan untuk menerima risalah dan kalam-Nya. Bagaimana mungkin kau mencaci aku atas perbuatan yang telah digariskan Allah kepadaku sebelum aku diciptakan?!" Denikianlah akhirnya nabi Musa mengakui kekhilafannya berburuk sangka pada Adam AS.

Firman Allah:
[فدلا هما بغرور]   (الأعراف: 22)
"Maka iblis menggoda keduanya (untuk makan buah terlarang) dengan tipu daya"

Kata "dallaa" yg berarti "mengeluarkan", terambil dari kata "dalla- addalwu", yakni: mengeluarkan dari sumur. Dengan tipu daya, maksudnya: bahwa iblis tertipu saat menyangka bahwa dia telah mengeluarkan Adan dan Hawa dari surga. Iblis tidak mengira bahwa sebenarnya itu adalah kehendak Allah SWT. Maka sebenarnya yang tertipu dan terpedaya itu adalah iblis, bukan Adam dan Hawa.

Iblis menyangka bahwa Nabi Adam itu terusir dan dilaknat oleh Allah, sebagai mana iblis telah terusir dan dilaknat. Namun tidak demikian adanya. Yang terjadi justru Allah menalqin Nabi Adam as, seraya berfirman:

 [فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه]   (البقرة: 37)
" Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, dan Allah menerima taubat Nabi Adam"

Dan iblis melihat langsung bagamana Allah menerima taubat Nabi Adam AS. dengan kalimat-kalimat yg disampaikan oleh Allah SWT.

Firman Allah:
[قالا ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين]   (الأعراف: 23)
"Keduanya berkata: wahai Tuhan, kami telah berlaku dholim atas diri kami. Dan jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, sungguhlah kami termasuk orang-orang yang merugi"

Ungkapan tersebut merupakan satu sikap perlindungan diri atas perkara yg dhohir. Dan lihatlah bagaimana Nabi Adam mengakui atas kesalahan yang dilakukannya. Meski sebenarnya beliau tahu kalau itu merupakan ketetapan yang harus dijalaninya.

Oleh: Dr Zulfan Syahansyah, Penulis adalah aktivis pesantren dan dewan pengajar di Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang.

Berita Lainnya

berita terbaru
Khotbah Idul Fitri 1438 H

Merajut Hubungan Persaudaraan

24/06/2017 - 11:54

Comments