MWC NU Turen Siap Menuju Kemandirian Ekonomi

Suasana Acara Musyawarah Kerja I (Musker I) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) kecamatan Turen. (Foto: nukita.id)

NUKITA.ID, MALANG – Musyawarah Kerja I (Musker I) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) kecamatan Turen mempertegas komitmen MWCNU Turen terhadap kemandirian umat khususnya dibidang ekonomi.

Dalam raker tersebut, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) Kecamatan Turen membocorkan sejumlah stretegi untuk menciptakan kemandirian di lingkungan MWCNU Turen. Salah satunya adalah kegiatan koinisasi.

"Ada beberapa hal terkait strategi perekonomian di MWCNU Turen. Itu berawal dari tindak lanjut kemandirian. Selama ini kemandirian sudah kita bangun melalui gerakan koinisasi yang Alhamdulillah berjalan dengan baik," terang Kyai Syafaat, saat ditemui tim NUKITA.ID, Minggu (13/9).

Menurutnya, kegiatan koinisasi ini dilakukan secara bertahap dan sudah berjalan selama 23 bulan. Dalam satu bulan, kegiatan koinisasi ini bisa mengumpulkan dana hingga 250.000.000.00.

"Dalam kurun wakru 23 bulan MWCNU Turen berhasil mengumpulkan dana sekitar 3.123.000.000.00. 70% dari dana tersebut kami kembalikan kapada ranting untuk mensuport program dan gerakan-gerakan yg ada di ranting," paparnya.

Penerepan strategi koinisasi ini, kata Kyai Syafaat, bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang harus dilalui utamanya dalam hal transparansi, sehingga mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat.

"Jadi sistemnya pada koinisasi ini menggunakan  gerakan jaringan, jadi secara struktur diperkuat, hubungan dg semua elemen, stekholder NU juga diperkuat. Tidak berpandangan sektoral, tidak hanya membesarkan  LAZIS saja, setelah semua clear, akhirnya masyarakat bisa menerima sepenuhnya," lanjutnya.

Dari pergerakan koinisasi ini, MWCNU Turen menginginkan kemandirian berkelanjutan melalui perekonomian produktif. Strateginya yaitu pembentukan sejumlah lembaga seperti; Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) dan KOPTANU.

"Kalau selama ini kita alhamdulillah sudah mandiri, tapi masih bergantung pada koin2 itu, kita tidak tau dan kita berharap masyarakat juga akan tetap istiqomah, akan tetapi orang bershodaqoh juga akan ada naik turunnya. Jadi program ini adalah program berkelanjutan yg bermula dari program koinisasi, sekarang bagaimana kemadirian lewat perekonomian produktif itu," jelasnya.

KOPTANU sebagai koperasi tidak hanya bergerak di bidang simpan pinjam tapi juga berkembang pada unit usaha yg lain, termasuk unit usaha perdagangan.

Sementara itu, LPNU nantinya akan mengolah perekonomian pada Kecamatan Turen.

"Singkatnya, KOPTANU ini yang mendanai. Nantinya, setiap produk yang dihasilkan pemasarannya akan melalui LPNU harapannya seperti itu, sekali lagi yaitu dari umat kembali lagi pada umat," tegasnya.

Strategi ekonomi produktif ini nantinya akan berbasis jaringan, yaitu jaringan struktural dan non struktural. Jaringan non struktur adalah jaringan kader. Dari situ, diharapkan perputaran ekonomi yg ada hubungannya dengan NU dapat berkembang dengan pesat.

"Polanya, kita menginginkan adanya toko2 di masing-masing ranting, sehingga produk-produk ini lebih dekat dg masyarakat. Toko yg kami maksud bukan berarti membangun etalase akan tetapi membuat jaringan. Jadi ekonomi berbasis jaringan sampai pada tingkat ranting. Di situ nanti harapannya akan terjadi perputaran. Dari KOPTANU kita berharap nanti akan ada produk dari para pengurus dari para kader. Sehingga yg selama ini banyak kader yg punya usaha yg masuk pada usaha kecil atau menengah  kesulitan, terutama pada masalJadi kita coba dengan adanya jaringan ini produk-produk kader kita kenalkan pada ranting yg lain , jadi semacam itu," tutupnya.(*)

Comments