Bintang di Surga; Ternyata Sejatuh itu Aku Mencintaimu

Mahasiswa Aktif Pascasarjana UNIRA Malang, Ahmad Fauzy. (Grafis: NUKITA)

NUKITA.ID, MALANG – Bintang di Surga; Ternyata Sejatuh Itu Aku Mencintaimu
Baca lagi judul tulisan ini.

Sudah?

Sekarang baca lagi dengan baik.

Sudah teringat sesuatu?

Apakah ada dari memori masa lalu anda yang seketika menghampiri anda?.

Yaa... ini adalah judul lagu dari sebuah band ternama yang tetap eksis hingga saat ini. Ia adalah Peterpan atau yang sekarang kita kenal dengan Noah.

Bintang di Surga adalah salah satu lagu yang tercantum dalam album kedua Peterpan yang dirilis pada 26 Juli 2004. Album ini menjadi salah satu album terlaris di Indonesia dengan jumlah penjualan sekitar 3 juta keping, sedangkan 2,7 juta keping di antaranya terjual di Indonesia.

Barangkali anda akan bertanya "mengapa saya mengulas lagu ini dan apa bagusnya?".

Begini mas, mbak. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh penulis liriknya, Nazril Irham —atau yang akrab disapa Ariel— "ini adalah lagu yang menceritakan tentang seseorang yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan tapi tidak dengan apa yang ia butuhkan".

Barangkali di antara kita pernah mengalami kesuksesan dibidang tertentu, riwayat pendidikan lancar, stabilitas ekonomi terkendali, hidup di lingkungan yang ramah dan bejibun keberuntungan lainnya. Tetapi apakah keberuntungan tersebut berbanding lurus dengan riwayat asmara, kasih sayang keluarga, bahkan ketenangan hati anda?. Naah... lagu yang dibuka dengan dua petikan bass inilah yang menceritakan itu semua. Bagaimana kita bisa mengetahuinya?. Mari kita ulas lebih jauh liriknya.

"Masih 'ku merasa angkuh, Terbangkan anganku jauh":

adalah gambaran seseorang dengan ambisi yang telah mengakar dan menjalar hingga ke setiap tapak-jejaknya.

"Langit 'kan menangkapku

Walau 'kan terjatuh":

bahkan ia akan terima segala konsekuensi terburuk, termasuk jika ia tidak mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

"Dan bila semua tercipta

Hanya untuk 'ku merasakan

Semua yang tercipta

Hampa hidup terasa":

Jikalau ia dapat meraih dan mendekap keinginannya, ia hanya bisa menikmatinya seorang diri. Sebagaimana naluri manusia yang senang berkisah dan mendengar kisah, ia juga ingin melakukan hal yang serupa, tapi apalah daya, fakta berbicara atas kesendiriannya.

"Lelah tetap 'ku mencari

Arti untuk 'ku membagi

Menemani langkahku

Namun tak berarti":

Ia mulai merasakan lelah, bahkan terjatuh, tapi memilih untuk bangkit, meskipun ia tersungkur lagi dan tetap memilih untuk tegap kembali. Demi cinta yang telah lama dinanti, sebab dengannya hidup menjadi lebih berarti.

"Dan bila semua tercipta

Tanpa harus 'ku merasakan

Cinta yang tersisa

Hampa hidup terasa":

Ada yang datang kembali, tapi ia bukanlah sesuatu yang dinanti. Ia hanya membutuhkan cinta. Dengannya ia bisa bertukar hampa menjadi cerita lalu ceria.

"Bagai bintang di surga

Dan seluruh warna

Dan kasih yang setia

Dan cahaya nyata":

Bintang adalah simbol penunjuk arah. kemunculannya bersamaan dengan hilangnya resah. Ia menginginkan hidup yang terarah dan indah seperti surga. Dengan kasih yang selalu setia dan cinta yang menyala nyata.

"Oh, bintang di surga

Berikan cerita

Dan kasih yang setia

Dan cahaya nyata":

Oleh karena kehadirannya, Ia bisa berbagi kisah, tentangnya yang setia dan tentangnya yang selalu menebarkan cinta.
Wallahu a'lam(*)

 

Wallahu a'lam

Berita Lainnya

berita terbaru
Bencana Nasional Virus Corona COVID-19

Ini Pesan Habib Luthfi Bin Yahya Tentang Virus Corona

19/03/2020 - 13:16

berita terbaru
Berita Duka Datang dari Tokoh NU Kabupaten Malang

Biografi Singkat Almarhum Dr HM Taufiqi,SP,MPd

08/03/2020 - 02:09

berita terbaru
Ulama Aswaja

Mayor KH Mashudi Saksi Hidup Resolusi Jihad NU

27/02/2020 - 15:34

Comments