Maaf

Foto: Nukita.id

NUKITA.ID, MALANG – Dalam prinsip mendasar, maaf adalah sifat Tuhan. Maaf adalah turunan dari kasih sayang. Sebuah hal langka yang melekat dalam diri setiap manusia yang hidup di alam dunia. Manusia memang tidak didesain untuk memaafkan. Sifat manusia dirancang untuk dendam dan membalas. Dengan begitu maka semua menjadi adil. Maka atas nama prinsip keadilan, hampir tidak dikenali kata maaf.

Secara manusiawi, maaf hanya bisa diambil alih oleh sifat lupa. Maka manusia harus belajar dan berproses agar maaf bisa dicapai walaupun dalam kondisi sadar dan tidak lupa. Proses menuju maaf itu dalam sejarah yang ditulis dalam berbagai Kitab Suci selalu berkaitan dengan kisah-kisah orang saleh yang dekat dengan Tuhan. Tak jarang, Kitab Suci itu mengaitkan kata maaf dengan perilaku manusia terhadap Tuhan.

Dalam kitab suci tertua agama Samawi yakni Taurat berlaku prinsip pembalasan yang setimpal: lex talionis. Lex Talionis adalah asas bahwa orang yang telah melukai orang lain harus diganjar dengan luka yang sama, atau menurut interpretasi lain korban harus menerima ganti rugi yang setimpal. Hukum tertulis tertua di dunia juga tidak berbicara tentang maaf yakni ”satu mata dibalas satu mata”. Hukum yang juga didapatkan dalam Undang-Undang Hammurabi di Mesopotamia 1.754 tahun sebelum Masehi.  

Dekonstruksi Lex Talionis dilakukan secara radikal oleh Yesus. Dalam ajarannya Ia mengajarkan agar manusia sama sekali tidak membalas jika keburukan terjadi kepadanya akibat ulah manusia lain. Bahkan, Yesus mengajarkan agar kita membiarkan pipi kita yang satu ditampar, setelah tamparan pertama di pipi yang lain.

Alquran berbicara dengan lebih lengkap lagi terkait hal memaafkan. Sejatinya, Alquran tidak mengajarkan untuk meminta maaf, melainkan memberi maaf. Karena disanalah letak kesempurnaan pencapaian manusia terhadap kemanusiaan.

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nur: 22).

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang berbuat makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS Al A'raf: 199)

Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS At-Taghabun: 14)

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun. (QS Al-Baqarah: 263)

Didalamnya diajarkan bahwa keadilan secara manusia tidak lebih baik daripada dosa yang dihapuskan oleh Allah jika kita mau memaafkan kesalahan sesama. Penghapusan dosa itu bahkan ditambahkan dengan pahala jika kita memaafkan dan mengikhlaskan segala perilaku buruk sesama dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menjadi manusia ternyata tidak semudah memahami kemanusiaan. Untuk mencapai kemanusiaan, manusia didekonstuksi sedemikian rupa. Dan salah satu prosesnya adalah dengan memahami maaf dan mempraktikkannya secara utuh. Tanpa syarat. Seperti maaf yang selalu diberikan Allah kepada kita yang selalu penuh dengan dosa dan kekejian. Karena maaf adalah bagian dari sebuah proses bersama yang melahirkan manusia dan kemanusiaan.

Hampir setiap tahun siklus maaf memaafkan menjadi tradisi bagi umat Islam di Bulan Ramadan dan mencapai puncaknya di hari Idul Fitri. Maaf menjadi komoditas, sekaligus representasi dari lelaku spiritual yang dilampaui semua umat Islam sepanjang Ramadan.

Mohandas Karamchand Gandhi, tokoh berpengaruh dalam sejarah pembebasan India dari jajahan Inggris atau lebih dikenali sebagai Mahatma Gandhi mengajarkan kepada seluruh dunia, bahwa maaf itu harus menjadi kuil suci dalam hati manusia. Kutipannya yang sangat masyhur “Jika mata dibayar dengan mata, maka seluruh dunia akan buta.”

Maka memaafkan adalah cara agar dunia tidak buta. Agar manusia bisa melihat dengan seksama bahwa maaf adalah bagian proses bersama di mana hidup manusia mungkin. Diantara segala kemungkinan dan kemasygulan yang hadir di dalam hati, sudikah kita memaafkan tanpa syarat? (*)

*Oleh Pemimpin Redaksi NUkita.id, Zulham Akhmad Mubarrok.

Comments