KMA, Kyai Banten Kalahkan Pengusaha Jebolan Amrik

KMA, Kyai Banten Kalahkan Sukron Makmun, Wakil ketua PWNU Banten, Anggota Komisi Pengkajian & Penelitian MUI Provinsi Banten.(Grafis: Dena Setya UTama/NUKita)

NUKITA.ID, SURABAYA – KMA, Kyai Banten Kalahkan Pengusaha Jebolan Amrik. Oleh: Sukron Makmun, Wakil ketua PWNU Banten, Anggota Komisi Pengkajian & Penelitian MUI Provinsi Banten.

Semua mata tertuju pada Kyai asal Banten itu. Debat Cawapres (17/3/2019) ini lebih menarik dari debat-debat sebelumnya. Banyak yang meragukan kemampuan & kesehatan Kyai Ma’ruf Amin (KMA). Kalangan Islam tradisional pun ada yang meragukannya. Jangan-jangan kyai akan tertutup oleh bayang-bayang rivalnya, Sandiaga Uno (SU). Saya yakin, sejak awal KMA ini teruji. Ia pernah pegang pos tertinggi di MUI dan PBNU.

Soal kesehatan tak perlu ditanya. Ia masih makan sate kambing. Oktober tahun lalu,  ia minta durian saat berkunjung ke negeri Singa. Underestimate dari berbagai pihak itu, pada akhirnya justru memunculkan faktor “Wow”. Debat bukan soal kalah-menang, tapi dari berbagai perspektif, masyarakat bisa menilai siapakah yang lebih unggul?

KMA mengkritisi argumen SU, yang belum begitu memahami persoalan secara holistik-komprehensif terkait gizi kronis (stunting). Menurut KMA, penanganannya harus dimulai bahkan sejak bayi masih dalam kandungan, bukan setelah lahir apalagi setelah 2 tahun. Ilmu kedokteran dan Fiqh (hukum Islam) memberi solusi yang sama. Ada kolaborasi, keduanya bisa sejalan.

Ia menyadarkan kembali bahwa ilmu kedokteran & fiqh tidak saling bertentangan, justru keduanya memiliki hubungan yang mutualistik-komplementer. Rivalnya yang pengusaha dan lulusan Wichita State University, Amerika Serikat itu justru terkesan grusa-grusu, karena memberi solusi untuk stunting ketika bayi sudah lahir. Di sini kelihatan bahwa SU tidak paham akan isu kesejahteraan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh wong cilik (rakyat kecil). Cerita tentang keluhan, penderitaan rakyat kecil tidak lebih dari sandiwara.
KMA terlihat begitu tenang bak samudra yang tahu akan kedalamannya. Daya pikirnya kritis dan teruji. Retorikanya matang. Kata-katanya terukur, mudah dipahami serta memberi nilai tambah (value-added). Kyai yang baru ulang tahun ke-76 itu juga tepat sasaran saat bicara masalah tenaga kerja asing (TKA).

Kepala tujuh rasa milenial. Lihatlah, istilah yang digunakan banyak yang in; up to date dengan istilah kekinian baik untuk segmen milenial ataupun masyarakat yang secara terus menerus mengikuti perkembangan teknologi pada era revolusi industri 4.0.

Ia ternyata lebih paham soal teknologi dibanding lawannya yang jauh lebih muda. Cyber University adalah salah satu contoh idenya yang futuristik. Wujud dari cara berpikir yang visioner, inovatif terhadap rancangbangun sistem pendidikan nasional yang modern, jauh dari kesan kolot (konservatif). Ia bukanlah kyai yang ketinggalan zaman. Keluasan ilmu dan banyaknya pengalaman mencerminkan bahwa ia bukanlah pajangan atau ban serep Jokowi. Ia tokoh matang pohon, bukan karbitan.

KMA lahir dari rahim rakyat biasa, bukan konglomerat, ketua partai, apalagi jenderal militer. Ia tumbuhkembang dalam pendidikan pesantren. Penampilannya biasa, sarungan ala santri/ kyai pada umumnya. Terkadang menggunakan istilah Arab dengan citarasa (dzauq) Nusantara yang khas. Ini yang mungkin sulit dipahami oleh media asing semacam CNN yang menyebutnya mirip khutbah Jum’at. Mungkin, media yang jadi beo-nya Amerika ini tidak mau kehilangan muka, alumnusnya dikalahkan oleh kyai jebolan Tebuireng.
Bahasa Arab ala Nusantara hanya muncul dari ulama yang memahami kitab kuning (turats), bukan produk pesantren kilat atau ulama produk politisi. Dari penampilan dan latarbelakang, ia klop dengan Jokowi. Sama-sama datang dari kaum alit (kecil) yang jauh dari pemberitaan karena jarang disorot media (under-rate).

Keduanya sama-sama dapat berkah demokrasi sehingga kaum alit tidak lagi sebagai penonton yang berada di pinggir, tapi juga menjadi pemain yang berkiprah di tengah pusaran kekuasaan yang menentukan kebijakan.

Kyai bukan lagi daun Salam yang dicari ketika mulai memasak, tapi dibuang pertama pada saat makanan siap disantap. Pada masa Orba, massa NU sering diperebutkan untuk keuntungan politik parpol, tapi NU secara organisasi tidak mendapakan manfaat setimpal. Saatnya ulama menjadi yang terdepan dalam penerapan kaidah Ushul Fiqh yang terucap secara fasih oleh KMA, “tasharrufu al-Imam ‘ala ar-Ra’iyyah manutun bi al-Maslahah (kebijakan seorang pemimpin kepada rakyat, harus berorientasi pada kemaslahatan)”.

Sesuai sabda Nabi, bahwa ada dua golongan dari umatnya yang apabila kedua golongan itu baik, maka negara akan baik, jika keduanya rusak maka negara ikut rusak yaitu ulama’ dan umara’ (penguasa). Dalam hadits yang disebutkan pertama adalah ulama. Menunjukkan bahwa fungsi proteksi atas kemaslahatan umat yang paling utama adalah ulama. Jika ulama terpilih sebagai eksekutif, itu berkah bagi Indonesia

Jika tidak, maka yang penting adalah komunikasi yang efektif antara ulama’ dengan umara’ (eksekutif). Yang betul-betul santri tidak akan memilih pemimpin yang belum jelas keulamaannya. Seperti Mubtada’ tidak boleh Nakirah.

Debat Cawapres perlu diapresiasi. Ada tata krama khas Indonesia. Yang muda hormat dan santun kepada yang lebih tua. Meskipun dalam gegap gempita demokrasi, semua komponen bangsa harus tetap mengindahkan integritas dan etika dalam berpolitik. (*)

*Penulis adalah Sukron Makmun, Wakil ketua PWNU Banten, Anggota Komisi Pengkajian & Penelitian MUI Provinsi Banten.

**)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi nukita.id

Comments